Selamat Hari Jadi Kabupaten Pandeglang Ke-140 Tahun 2014

Logo Kabupaten Pandeglang

D

alam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Pandeglang, sebagai orang yang lahir di Pandeglang, saya mengulas sejarah Kabupaten Pandeglang yang saya ambil dari beberapa sumber. Waktu saya lahir dan memasuki masa kanak-kanak menikmati masa SD(Sekolah Dasar) yang saya tahu adalah bahwa Kabupaten Pandeglang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Saya masih inget betul waktu itu sekitar kelas 5 SD, saya mengikuti kegiatan PRAMUKA. Dimana dalam Pramuka itu kita harus memasang logo Daerah atau disebut Kwartir Daerah(Kwarda). Karena dulu masih masuk Provinsi Jawa Barat maka logo yang digunakan adalah logo Kwarda Jawa Barat dan itu masih menggunakan logo yang lama. Karena ada logo baru untuk Jawa Barat, maka seluruh anggota PRAMUKA harus mengganti logo tersebut. Saya masih ingat, ketika salah seorang Pembina Pramuka berkata “Udah ganti logo ini mah, gak bakal ganti-ganti lagi”. Namun ternyata pada tahun 2000, saya sendiri telah masuk kelas 6 SD. Ada penggantian logo Kwarda Pramuka lagi. Setelah saya perhatikan ternyata sangat berbeda dengan logo sebelumnya yang bertuliskan JAWA BARAT namun yang baru bertuliskan BANTEN. Dari situlah saya baru tahu kalo Pandeglang sekarang telah masuk ke Provinsi Banten bukan Provinsi Jawa Barat.

A. Asal Mula Nama Pandeglang

Nama Pandeglang yang sekarang digunakan baik sebagai nama Kabupaten maupun ibu kota Kabupaten dan juga kecamatan ini memiliki beberapa ppendapat yang berbeda, antar lain:

  • Pandeglang berasal dari kata “Pandai Gelang” yang artinya tukang atau tempat menempa gelang. Pendapat ini dikaitkan dengen legenda Si AMUK yang kabarnya pada zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada seorang Pandai Besi yang termasyhur kepandaiannya. Sultan Banten yang memerintah waktu itu menyuruh tukang pandai besi di Desa tersebut untuk membuat gelang meriam yang bernama si AMUK karena di daerah lain tidak ada tukang pandai besi yang sanggup untuk membuatnya. Setelah si tukang tersebut berhasil membuatnya, maka daerah Kadupandak dan sekitarnya disebut orang Pandeglang yang selanjutnya berkembang menjadi salah satu distrik di kabupaten Serang;
    Ki Amuk Tampak dari Samping
    Ki Amuk Tampak dari depan
  • Pandeglang berasal dari kata “Paneglaan” yang artinya tempat melihat ke daerah lain dengan jelas. Hal ini seperti dikemukakan dalam salah satu buku “Pandeglang itu asal dari kata Paneglaan, tempat melihat kemana-mana”;
  • Pandeglang berasal dari kata “Pani Gelang” yang artinya tepung gelang.

B. Pandeglang menjadi Kabupaten

Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam kesultanan Banten akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan puteranya Sultan Haji. perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC(Vereenigde oostindische Compagnie) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji (Sultan Abu Nashar Abdul Qohar), sehingga terjadi perang saudara di Banten. untuk memperkuat posisinya, pada tahun 1682 Sultan Haji mengirimkan 2 orang utusannya untuk menemui Raja Inggris di London agar mendapat dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama puteranya yang lain, yakni Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf mundur kearah pedalaman Sunda. Pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia.

VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan dari pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat Letnan beserta pasukan Balinya bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, dimana pada 14 Desember mereka berhasil menawan Syekh Yusuf. Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati diperintahkan oleh Letnan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler. Namun terjadi pertikaian diantara meraka, puncaknya pada 28 Januari 1684 pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan dan Untung Surapati dan pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada tanggal 7 Februari 1684 sampai di Batavia.
VOC

Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC diantaranya:

  • Pada 12 Maret 1682 wilayah lampung yang menjadi kekuasaan Banten diserahklan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung; dan
  • Berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga harus mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC.

Setelah meninggalnya Sultan Haji pada tahun 1687, VOC mulai mencengkeramkan pengaruhnya di Kesultanan banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten harus mendapatkan persetujuan dari Gubetmur Jendral Hindia-Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat menggantikan Sultan Haji, namun hanya berkuasa sekitar 3 tahun. Selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten menyisakan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konflik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, diantaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat Konflik berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal atau bagian dari VOC.

Pada Tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur jendral Hindia-Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibukotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Deandels yang akhirnya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan(Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. Sultan Muhammad naik tahta menggantikan sultan Ishaq. Pada masa kekuasaan Sultan Muhammad, kesultanan Banten telah begitu lemah akibat dari beberapa kekuatan global yang silih berganti mempengaruhi kesultanan Banten. Ibukota Kesultanan kemudian dipindahkan ke Pandeglang. Namun pada masa kolonial Inggris, sekitar tahun 1813, Sultan Muhammad dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles, sekaligus mengakhiri riwayat kesultanan Banten.
Kantor Bupati Panndeglang

Belanda kembali menguasai Banten setelah sebelumnya direbut oleh Inggris. Pada 1 januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam:
Staatsblad(Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No.27 jo No.28, 1928 no. 438, dan 1932 no. 507.

Banten menjadi salah satu keresidenan yaitu Bantam Regentschappen dalam Provincie West Java disamping Batavia, Buitenzorg (Bogor), Preanger(Priangan), dan Cirebon.
dan dalam Staatsblad Nederlands Indie tahun 1828 No. 81, Keresidenan banten dibagi menjadi 3 kabupaten, yaitu:
1. Kabupaten Utara yaitu Serang
2. Kabupaten Selatan yaitu Lebak
3. Kabupaten Barat yaitu Caringin
Kabupaten Utara atau Serang dibagi lagi menajadi beberapa Kewedanan, yaitu:
1. Kewedanan Serang (Kecamatan Kalodian dan Cibening)
2. kewedanan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang)
3. Kewedanan Ciruas (Kecamatan Cilegon dan Bojonegara)
4. Kewedanan Cilegon (Kecamatan Terate, Cilegon dan Bojonegara)
5. Kewedanan Tanara (Kecamatan Tanara dan Pontang)
6. Kewedanan baros (Kecamatan Regas, Ander, dan Cicandi)
7. Kewedanan Kolelet (Kecamatan Pandeglang dan Cadasari)
8. Kewedanan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat dan Ciomas Utara)
9. Kewedanan Anyer

Berdasarkan SK Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 24 Nopember 1887 No. 1/c tentang batas Kota Serang dan bagian Kota Pandeglang, Caringin dan Lebak Pasal 29, 31, 33, 67c dan Reglement (STBL Van Nederlanch Indie Tahun 1925 no. 380 LN. 1924 No. 74 Pasal 1) maka ditunjuk Kewedanan Pandeglang, Menes, Caringin, dan Cibaliung.

Kemudian berdasarkan Surat Menteri Jajahan tanggal 13 dan 20 Nopember 1873 no. LAA.AZ.No. 34/290 dan 28/2165 menetapkan bahwa:
1. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer dan Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan;
2. Bupati mempunyai pembantu yaitu Mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden;
3. Kepala Distrik mempunyai gelar Jabatan Wedana dan Onder Distrik mempunyai gelar Jabatan Asisten Wedana.

Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau Kewedanan sebagai berikut:
1. Kewedanan Pandeglang
2. Kewedanan baros
3. Ciomas
4. Kolelet
5. cimanuk
6. Caringin
7. Panimbang
8. Menes
9. Cibaliung
Kediaman bupati Pandeglang R.A.A. Wira Atmadja di sekitar Tahun 1925

Menurut data di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 Nomor IX maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguasaan Keresidenan Banten.

Dari fakta-fakta tersebut diatas dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

  • Pada Tahun 1828, Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan Distrik;
  • Pada Tahun 1874, Pandeglang merupakan Kabupaten;
  • Pada Tahun 1882, Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanan;
  • Pada Tahun 1925 Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri.

Atas dasar kesimpulan altternatif diatas, maka telah disepakati bersama bahwa tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.

DIRGAHAYU KABUPATEN PANDEGLANG Ke-140
Semoga Semakin BERKAH Untuk Seluruh Masyarakatnya.
Amien.

Sumber
Gambar dan Teks:
-Pandeglangkab.go.id
-humaspdg.wordpress.com
-id.wikipedia.com

About the Author